Perjuangan Striker Muda Menjanjikan Liverpool Paul Glatzel
Jika ada pesepakbola yang menanti peruntungan bagus, salah satunya adalah Paul Glatzel.
Bulan lalu sang youngster berusia 18, namun nasib buruk sudah menghampiri bintang muda the Reds ini.
Glatzel menjadi kapten Liverpool U-18 yang berjaya di FA Youth Cup pada musim lalu, dia mencetak gol penalti kemenangan atas Manchester City pada April. Masih belia, dia telah memikat hati Jurgen Klopp dan sudah siap merapat ke tim utama.
Dia kembali di masa pramusim dengan kondisi prima. Sejumlah sumber dari Akademi Liverpool di Kirkby mengeluarkan pujian setingi langit di sesi latihan perdana. Beberapa hari kemudian namanya masuk dalam tim yang dipersiapkan Klopp untuk menjalani laga persahabatan di Tranmere.
Kesempatan besar itu di depan mata dan benar-benar datang menghampiri. Glatzel masuk di paruh kedua di Prenton Park lalu menjadi otak di balik terciptanya gol Bobby Duncan, namun terjadilah adegan tabrakan lutut dengan Manny Monthe, bek tengah raksasa Tranmere.
Glatzel mencoba memaksakan bermain, tetapi beberapa detik kemudian dia merasakan sakit di lutut kanan sambil mendekat ke Scott Davies, kiper Rovers. Kemudian terjadilah pergantian aneh, Dan Atherton, kiper pelapis, diminta jadi penyerang tengah hingga laga berakhir. Di sisi lain Glatzel menyadari ada hal buruk yang menimpanya.
Sehari setelah lututnya terkilir, dia merasa tidak nyaman dan menjalani pemeriksaan di Melwood, dan hasilnya jauh dari mengembirakan. Glatzer mengalami robek otot ligamen ditambah kerusakan lainnya. Dia butuh dua operasi yang diikuti oleh program rehabilitasi yang panjang.
Glatzel, lahir di Liverpool dengan orang tua asal Jerman, disebut oleh mantan pelatih U-23 Neil Critchley sebagai youngster dengan mental dan karakter kuat namun bahkan dengan atribut seperti itu, dia kesulitan di masa-masa kelam.
“Saya merasa menjadi yang terburuk,” tuturnya di LFCTV. Saya tidak bisa mengungkap perasaan yang sesungguhnya.”
Ini bukan cedera parah yang pertama. Cedera hamstring pernah mengacaukan musimnya di level U-16 hingga harus absen selama enam bulan. Ketika akan kembali tampil, kakinya patah saat bermain dengan kawan sekolahnya. Situasi tersebut membuat Glatzel kehilangan momen terbaik pada musim itu, dia melewatkan kesempatan bekerja secara reguler bersama Steven Gerrard yang menjadi pelatih U-18.
“Secara mental sangat sulit,” tuturnya pada Goal pada April lalu. “Gerrard adalah legenda dan panutan.”
Ketika kembali, aksi Glatzel tetap impresif. Bekerja di bawah Barry Lewtas yang menggantikan Gerrard pada 2018, Glatzel gemilang. Dia jadi kapten dan berhasil merangkai duet apik bersama Duncan hingga melahirkan lebih dari 60 gol di semua kompetisi.
28, itulah jumlah gol yang disumbangnya.
Kemampuannya untuk mundur ke belakang untuk terkoneksi dengan permainan, piawai menciptakan ruang dan peluang untuk rekan setim dinilai sejajar dengan kehebatannya dalam urusan mencetak gol. Glatzel juga jauh dari egois salah satu contohnya terlihat di babak perempat-final Youth Cup di Bury.
Ketika itu sang bintang membuang kesempatan mengemas hat-trick untuk memberi kesempatan pada Duncan menambah pundi-pundi gol. Setelah pertandingan, adegan itu diakui sebagai favorit Lewtas.
Begitulah gambaran Glatzel, beberapa hari setelah dia menjalnai operasi ACL, dia dihubungi nomor yang tak dikenal. Klopp, sang pelatih yang mengabarkan jika program rehabilitasinya bisa dilakukan di Melwood bersama pemain dan staf tim utama.
“Itu membakar semangat saya,” lanjutnya di LFCTV. Sejauh ini dia berhadapan dengan masa-masa kelam. Bekerja keras di gym dan kolam renang dan sesi berat di kursi roda untuk melatih kekuatan jantung. Glatzel lalu berbicara pada Joe Gomez dan Alex Oxlade-Chamberlain yang pernah mengalami cedera serupa. “Percayakan pada physios dan teruslah bersikap positif,” demikian nasihat yang mereka berikan. Performa Oxlade-Chamberlain musim ini jadi inspirasi.
Bulan lalu sebelum virus corona mewabah di Inggris, Glatzel telah memulai berlari kecil sambil berharap bisa tampil di laga kompetitif setidaknya bersama tim U-23 sebelum musim berakhir. Secara reguler dia sering mengunjungi Akademi untuk bertanding dan ada di kamar ganti sebelum duel ulangan putaran keempat Piala FA lawan Shrewbury di mana banyak rekannya yang tampil.
Jika bukan karena cedera, Glatzel sudah pasti memperkuat tim itu dan tampil babak perempat-final Piala Carabao. Klopp pernah menyebutnya sebagai menjanjikan, dan pemain yang masuk ke level pra-Akademi pada usia lima tersebut mendapat dukungan luas.
Direktur Akademi Alex Inglethorpe merupakan salah satu sosok yang terus memantau program rehabilitasinya. Memang tidak ada seorangpun yang mengetahui masa depan secara pasti namun satu hal bisa dijadikan catatan…
Paul Glatzel adalah pesepakbola muda dengan bakat hebat yang dimiliki Liverpool dan yang dibutuhkannya sekarang ini adalah sentuhan keberuntungan.